JAKARTA – Presiden Jokowi Widodo menghadiri acara Rembuk Nasional Aktivis 98 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7). Dalam acara tersebut, Presiden mengingatkan kepada masyarakat jika kebebasan bereskpresi yang dinikmati masyarakat saat ini tidak bisa seenaknya karena tetap diatur dalam konstitusi.

“Kita ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Aktivis ’98 yang saat itu memperjuangkan hadirnya kebebasan berekspresi di negeri ini, kebebasan berpendapat dan kebebasan pers yang ada di negara kita. Tapi kebebasan itu bukan kebebasan yang semau-maunya karena kita diikat oleh aturan dan konstitusi,” kata Jokowi saat menutup acara Rembuk Nasional Aktivis ’98.
Presiden mengatakan, meski kebebasan berekspresi dijamin oleh negara, bukan berarti masyarakat bisa bebas untuk mengadu domba, mencela, dan mencemooh saudara sebangsa. Sebab, kata dia, persatuan dan persaudaraan merupakan aset besar Indonesia.
“Harus disadari bersama-sama dan untuk jadi negara besar dan kuat, pasti kita diuji dan ada cobaan agar kita kuat menghadapi rintangan, cobaan, dan hambatan,” ujarnya.
Presiden mengimbau massa untuk menjaga persatuan. Terlebih menjelang perhelatan Pilpres 2019, masyarakat dapat dengan mudah terpecah belah karena perbedaan sikap politik.
“Silakan berbeda pendapat pilihan politik karena yang dibangun Aktivis ’98 adalah masyarakat yang demokratis. Beda pilihan untuk calon bupati, wali kota, presiden silakan, tapi ingat kita sebangsa setanah air. Jangan hanya karena berbeda politik saling mencela, saling mencemooh, itu bukan budaya bangsa Indonesia,” tuturnya.
Sebelumnya, Aktivis ’98 juga turut mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi di Pilpres 2019. Aktivis ’98 menilai Jokowi memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan cita-cita reformasi 1998. Bahkan, Aktivis ’98 juga menyebut Jokowi sebagai ‘anak kandung reformasi’.
“Jokowi tidak punya kejahatan ekonomi, tidak punya kejahatan politik, tidak punya kejahatan kemanusiaan,” kata Aktivis ’98, Wahap Tolauhu.